"Anta (kamu) tau tidak kalau ada satu suku
yang sangat disegani oleh masyaikh (ustadz) Saudi, namun berasal dari luar As
Su'udiyyah?"
"Suku apa itu ustadz?"
"Pernah dengar Mauritaniyyah?"
"Belum ustadz, kenapa mereka disegani ustadz?"
"Karena kebiasaan mereka dalam menuntut 'ilmu yang
sangat luar biasa... Jika ada seorang anak kecil disana berumur 7 tahun belum
hafal qur'an itu akan sangat memalukan kedua orangtuanya... Bahkan 7 dari 13
doktor di MEDIU berasal dari Mauritaniyyah."
Anak-anak suku Mauritania menunjukkan catatannya yang ditulis di kayu
"Lawhah"
"Masya Allah, bagaimana sistem pengajaran
mereka...???
"Pertanyaan anta jamil... memang kita bukan hanya
harus takjub, tapi kita harus meniru sistem yang mereka gunakan. jadi begini
akhi...
Mereka itu mendapatkan pendidikan Al Qur'an bukan hanya
sejak kecil, tapi sejak BAYI...
Ketika ada seorang ibu hamil, dia tidak akan menghabiskan
waktu HANYA tidur di kasur. ibu tersebut akan MENYIBUKKAN DIRI untuk MUROJA'AH
HAFALANNYA hingga ibu itu TERASA LETIH karenanya...
Setelah bayi itu lahir, keluarga yang akan muroja'ah.
Misalkan seorang anak akan muroja'ah kepada bapak atau ibunya, maka DIWAJIBKAN
untuk dia muroja'ah di depan adiknya yang masih bayi pula. Jadi ketika ibunya
sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya muroja'ah kepada ibunya. Kalaupun
suara tangis bayi mengganggu kakaknya ya itulah tantangan untuk anak
tersebut..."
"Masya Allah, lalu sistem ketika menginjak remaja
gimana ustadz?"
"Ahsanta, ketika mereka berusia 7 tahun ke atas,
mereka akan pergi kepada masyaikh untuk belajar agama. mereka TIDAK BELAJAR DI
DALAM KELAS. Jadi para masyaikh setempat MEMBUAT TENDA DI TENGAH GURUN, dan di
dalam tenda itulah proses belajar mengajar dilakukan... Mungkin dalam fikiran
kita menyakitkan karena panasnya. namun itu NIKMAT untuk mereka karena RASA
INGIN TAU YANG TINGGI pada diri mereka menjadikan SEDIKIT 'ILMU adalah NIKMAT
DAN RIZQI YANG MELIMPAH UNTUK MEREKA, BUKAN HARTA...!!!"
"Masya Allah... Masya Allah Yaa Ustadz..."
"Na'am, ketika syaikh tersebut berkata,
"ISTAMI'...!!!", maka semuanya menatap syaikh tersebut dan menyimak
dengan seksama. Tidak ada yang berani menulis bahkan BERMAIN PULPEN, karena
akan dimarahi...
Setelah syaikhnya menerangkan panjang lebar barulah mereka
menulis. Mereka menulispun juga BUKAN di selembar kertas. Mereka menulis di
batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya yang mereka bawa dari rumah, kenapa
tidak pakai kertas? karena memang itu dilarang, dan mereka hanya membawa
selembar saja...
Setelah mereka menulis maka tulisan mereka yang berasal
dari ingatan mereka itu ditunjukkan ke syaikh, kalau ada kesalahan maka akan
dikembalikan untuk dibetulkan hingga semua santrinya menuliskan semua yang
diucapkan syaikh... Itu menunjukkan SYAIKH TERSEBUT HAFAL APA YANG DIUCAPKAN.
Masya Allah... Ketika semua santrinya telah menuliskan
dengan benar maka syaikh memerintahkan untuk dihapus..."
"Dihapus ustadz...??? Lalu mereka tidak punya
catatan pelajaran hari itu dong?"
"Laa yaa akhi, ketika semuanya sudah benar itu
menunjukkan pelajaran yang disampaikan oleh syaikh sudah HAFAL DI LUAR KEPALA.
Jadi catatan mereka ya ingatan mereka itu... Setelah semuanya benar dan telah
dihapus, maka syaikh melanjutkan pelajarannya... Begitu seterusnya sampai
pelajaran di hari itu habis. Setelah mereka pulang ke rumah, barulah apa yang
mereka INGAT mereka tulis ulang dalam buku-buku mereka...
Di usia 17 tahun, mereka sudah bisa mengeluarkan fatwa,
yang berarti mereka sudah menjadi MUFTI..."
Belajar dengan hafalan dan mencatat di kayu "Masya Allah, merinding ana
ustadz..."
"Jamil... Dulu ketika ana di LIPIA ada cerita
menarik, dosen ana ketika ingin mencari atau mengingat-ingat sebuah hadits maka
beliau bertanya kepada temannya yang masih berstatus mahasiswa S2, karena apa?
Karena ikhwan ini sudah hafal kutubus sittah, bulughul
marom, shohihain, dan sekarang sedang menghafal musnad imam ahmad dan sudah
hafal 2/3 nya... Anta tau kan kitab-kitab tersebut tebalnya seperti apa??? itu
hanya masih tebalnya, belum isi dari kitab tersebut... BERAPA BANYAK HADITS
YANG TERDAPAT DI KITAB ITU? Masya Allah.
Dan yang akan lebih mengherankan anta adalah, MEREKA
BUKAN HANYA HAFAL MATAN HADITSNYA... NAMUN SAMPAI KE RIJALUL HADITS, PERAWI INI
LAHIR TAHUN SEKIAN, MENINGGAL TAHUN SEKIAN, MENGAMBIL HADITS DARI SIAPA SAJA,
DINYATAKAN TSIQAH ATAU TIDAK OLEH 'ULAMA, HINGGA DIA BISA MENENTUKAN SENDIRI
SANAD HADITS TERSEBUT SHAHIH ATAU TIDAK TANPA MENCATUT PERKATAAN SEORANG
MUHADDITS SEPERTI SYAIKH ALBANI KALAU HADITS TERSEBUT SHAHIH..."
"Masya Allah, merasa tidak punya apa-apa ustadz
ketika menyadari di belahan bumi lain ada yang mempelajari agama hingga seperti
itu..."
"Na'am, ana pun demikian... kalau anta ingat, USTADZ
ERWANDI TARMIDZI pernah bilang seperti ini : "Janganlah kalian bangga
ketika sudah hafal al qur'an, karena memang itu belum ada apa-apanya di
kalangan penuntut 'ilmu, dan janganlah kalian bangga ketika sudah hafal hadits
arbain, karena itu sudah sangat lazim di kalangan penuntut 'ilmu, janganlah
kalian menjadi sombong dengan sedikitnya 'ilmu yang kalian miliki... karena
bukannya 'ilmu itu akan bertambah malah bisa jadi akan berkurang. hafal qur'an
hanyalah pintu untuk antum memasuki dunia para 'ulama, hadits arbain hanyalah
dasar pijakan pertama antum memasuki dunia para 'ulama, namun kalian belum
pantas disebut 'ulama..."
Perpustakaan kuno di Syinqith (Chinguetti)
"Masya Allah, banyak faidah dari obrolan ini
ustadz..."
"Jamil, makna dari zuhud itu apa? Al Faqir Wal
Masakin kah? Atau seperti apa menurut anta?"
"Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang
ditanya ustadz..."
"Ahsanta, Barakallahu fiik, zuhud adalah ketika kita
mampu meninggalkan apa-apa saja yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat
kita, al mislu: nonton YKS bermanfaat tidak untuk kehidupan akhirat kita?"
"Tidak ustadz."
"Jamil, maka tinggalkanlah hal yang serupa dengan
itu dalam urusan duniawi kita kalau tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat
kita... Itulah zuhud."
"Ahsanta, lalu kenapa 'ulama dari mauritaniyyah
tidak terkenal ustadz?"
"Karena kebiasaan mereka... Mereka lebih disibukkan
untuk belajar dan mengajar. Tidak ada yang namanya safari dakwah atau khuruj ke
suatu tempat dan yang semisalnya... Kalau kita butuh beliau, ya kita yang
mengunjungi beliau... Sebenarnya banyak 'ulama dari mauritaniyyah, coba saja
cari 'ulama yang berakhiran "ASY SYINQITHI". Mereka adalah hasil
didikan adat menuntut 'ilmu ala mauritaniyyah..."
"Syukran atas tadzkirahnya ustadz."
"'Afwan, sebenarnya ana juga sedang muhasabah diri,
kalau diri kita belum dididik dengan sistem seperti itu, berarti tugas kita
untuk mendidik anak cucu kita dengan sistem yang mereka miliki..."
Ulama Ahlus sunnah Sheikh Abdullah Bin Bayyah –
Mauritania, salah satu pengajar di Universitas King Abdu l Aziz
University – Saudi Arabia, beliau bermazhab Maliki. (Nafas
Diri)
