STORYPOS – Dikisahkan, bahwa suatu hari para sahabat
sedang berkumpul di masjid. Lalu terciumlah bau kentut diantara mereka,
sehingga membuat para sahabat tidak tahan dengan bau tersebut, salah seorang
dari mereka berdiri dan berkata, “Barangsiapa yang kentut, silakan bangun”.
Hening, tak seorang pun berdiri.Ketika datang waktu ‘Isya
mereka berkata, “Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Orang
itulah yang kentut”. Setelah itu, para sahabat menoleh ke belakang untuk
melihat siapa yang keluar. Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak
dari tempat duduknya, mungkin malu. Lalu Bilal bangun untuk mengumandang kan
adzan. Tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudhu
lagi.”
Lalu para sahabat pun ikut berwudhu dan tidak diketahui
siapa yang kentut waktu itu.
Subhanallah. Sungguh, dalam diri Rasulullah terdapat
teladan yang baik bagi kita semua.
=================================================
Kisah tentang menjaga perasaan saudara seiman pun juga
terjadi pada seorang ulama, yaitu Syaikh Abdurrahman Hatim bin Alwan. Beliau
merupakan salah satu ulama besar diKhurasan pada zamannya. Dikenal dengan Hatim
Al A’sham, yang artinya Hatim si tuli.Suatu ketika ada seorang wanita yang
datang menemui beliau. Namun, tanpa sengaja ia kentut dengan suara yang cukup
keras. Wanita itu salah tingkah, menahan malu. Lalu syaikh ini pura-pura tuli,
dan meminta si wanita mengulangi pertanyaannya. Dengan sikap sang syaikh,
wanita itu pun merasa sedikit lega. Ia mengira sang syaikh benar-benar tuli.
Lalu mereka berbicara dengan saling meninggikan suara.
Wanita itu hidup selama lima belas tahun setelah kejadian
tersebut. Selama itu pula Syaikh Hatim pura-pura tuli. Hingga wanita itu
meninggal, ia tak pernah tahu kepura-puraan beliau.
=================================================
Usai shalat ashar di masjid Quba, seorang sahabat
mengundang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta jamaah untuk
menikmati hidangan daging unta di rumahnya. Ketika sedang makan, ada tercium
aroma tidak sedap. Rupanya diantara yang hadir ada yang buang angin. Para
sahabat saling menoleh. Wajah Rasulullah sedikit berubah tanda tidak senang.
Maka tatkala waktu shalat maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah
berkata: "Barangsiapa yang makan daging unta, hendaklah ia berwudhu!"
Mendengar perintah Rasulullah tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudhu.
Dan terhindarlah aib orang yang buang angin tadi.
=================================================
Tiga kisah di atas menceritakan bagaimana seharusnya seorang
muslim untuk menjaga kehormatan saudaranya. Bukan malah menertawakan nya atau
menyebarkan aibnya.
Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.
“...dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang
muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong
hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” (Muttafaq alaih). Wallahu
a'lam.
